Sabtu, 31 Maret 2018

Jalan Aneh Gentle Giant

Gentle Giant adalah salah satu raksasa prog rock 70an. Yang seperti namanya, tidak terlalu sukses secara komersial, tapi punya penggemar fanatik yang mencntai mereka, karena raksasa ini sangat manis dan lembut, heheheheh....

Didirikan oleh 3 bersaudara multi-instrumentalist Shulman, Derek, Phil dan Ray; musik sangat ekletik, memadukan semua elemen prog termasuk soul, jazz, bahkan folk dan blues; dengan instrument yang juga sangat beragam termasuk alat musik tiup. Penggunaan keyboard dan mellotron sangat optimal dalam mencapai kompleksitas musik mereka, termasuk lirik dan tema yang juga beragam dari pengalaman personal hingga filosofis. Wah ... ekletik sejati nih.

Nama Gentle Giant sendiri  berasal dari buku karya penulis perancis abad 16 Francois Rabelais yang menceritakan 2 raksasa baik hati dan lucu Gargantua dan Pantagruel. Karakter ini rupanya yang dijadikan model oleh Gentle Giant untuk mendefinisikan musik mereka. Suatu saat Gentle Giant pernah mengatakan bahwa mereka mengexplorasi batas-batas musik popular sehingga menjadi tidak popular, heheheh, apa maksudnya ya?... Yang jelas musik mereka kompleks, kokoh tapi manis dan bisa juga lucu, seperti diperlihatkan album pertama mereka yang saya dengarkan saat ini. Album ini dirilis tahun 1970 dan terdiri dari 7 lagu yang berbeda. Kecuali lagu terakhir yang berjudul The Queen, ke 6 lagu lainnya sangat bagus dan punya nafas serta jiwa sendiri, sehingga bisa kita dengarkan secara terpisah. Ciri khas Gentle Giant lainnya adalah vokal harmoni ala Queen dari Shulman bersaudara yang semuanya bisa menyanyi. Lagu kesukaan saya adalah Nothing At All yang dihiasi potongan piano klasik dan solo drum yang panjang dan tidak lazim, tapi pas sekali dengan lagu ini yang menceritakan kesedihan dan kesunyian.

Konon Gentle Giant pernah mengalami insiden saat menjadi band pembuka pertunjukan untuk Black Sabbath. Karena musik yang sangat berbeda, mereka diejek terus menerus oleh penonton Black Sabbath hingga Phil Shulman sangat marah dan menghentikan pertunjukan dengan balas memaki penonton. Heheheh... Gentle Giant memang punya jalan yang aneh...




GENTLE GIANT
Gentle Giant

Studio Album, released in 1970

Songs / Tracks Listing
1. Giant (6:22) 
2. Funny Ways (4:21) 
3. Alucard (6:00) 
4. Isn't It Quiet And Cold? (3:51) 
5. Nothing At All (9:08) 
6. Why Not (5:31) 
7. The Queen (1:40) 

Total Time: 36:57

Line-up / Musicians
- Derek Shulman / lead (1-3,5,6) & backing vocals, bass (4)
- Gary Green / lead guitars, 12-string guitar (2,4)
- Kerry Minnear / Hammond, Minimoog, Mellotron, electric, acoustic & honky-tonk pianos, timpani, xylophone, vibraphone, cello, bass, lead (3,6) & backing vocals
- Phil Shulman / alto & tenor saxes, trumpet, recorders, lead (2-5) & backing vocals
- Ray Shulman / bass, violin (2,4), electric (5-7) & acoustic (5) guitars, triangle (2), backing vocals
- Martin Smith / drums, percussion

With:
- Paul Cosh / tenor horn (1)
- Clare Deniz / cello (4)

Releases information
Artwork: George Underwood
LP Vertigo 6360 020 (1970, UK)
CD Line Records ‎- LICD 9.00722 (1989, Germany)
CD Vertigo 842 624-2 (1990, Europe)
CD Repertoire - REPUK 1035 (2004, UK) Remastered by Joachim Heinz Ehrig (EROC)





Selasa, 27 Maret 2018

Pameran Kenang-kenangan - Pictures At An Exhibition

Tiap kali aku mendengar lagu ini, lagu suite yang berdurasi panjang dari Emerson, Lake and Palmer (ELP), aku teringat pada mobil minibus yang pertamaku. Sebuah mobil carry berwarna silver yang menemani ku saat masih menjadi pegawai magang yang selalu merasa kesunyian, heheheh... Aku pernah membawa mobil carry ini keujung-ujung pulau jawa . Melihat-lihat pantai yang lenggang, kosong, sehampa hatiku, aah..

Lagu yang saya maksud berjudul Pictures At An Exhibition, yang merupakan adaptasi ELP dari karya klasik komposer rusia Modest Mussorgsky pada tahun 1874. Aslinya terbagi dalam 10 bagian, dan telah berulang kali di interprestasi dalam berbagai bentuk termasuk musik elektroniknya Isao Tomita pada tahun 1966. ELP memainkan suites ini dalam bentuk live pada tanggal 26 Maret 1971 di Newcastle City Hall, tetapi tidak segera dirilis karena produsernya merasa ragu bila merilis sebuah karya musik klasik dengan label rock.

Tapi Pictures At An Exhibition memang luar biasa. Album ini mencapai urutan ke 3 UK Album Chart pada tahun 1971 dan tetap merupakan album klasik prog live yang terbaik hingga saat ini. Kekompakan trilogy mereka sekali lagi diperlihatkan secara luar biasa. Keyboard dan peralatan Keith Emerson menghasilkan berbagai efek dahsyat yang bisa diimbangi oleh ketukan drum Carl Palmer, dan bass Greg Lake. Hebatnya kalau kita lihat video pertunjukkannya, mereka masih sangat muda saat itu, memainkan versi prog musik klasik dengan sangat fasih, tanpa partitur lagi, hehehe..... luar biasa. ELP hanya memainkan 4 bagian dari suites aslinya, ditambah 5 bagian yang ditulis oleh mereka sendiri. Termasuk The Sage yang ditulis oleh Greg Lake, dan berisi petikan gitar akustik dan vokal yang sangat gagah. Konon Greg Lake terinspirasi oleh lagu minnesang yang populer di jaman medieval. Liriknya indah, bercerita tentang kenang-kenangan mobil carry ku.... uups. hahahahaha

I carry the dust of a journey 
That cannot be shaken away 
It lives deep within me 
For I breathe it every day.......




PICTURES AT AN EXHIBITION
Emerson Lake & Palmer

Live, released in 1971

Songs / Tracks Listing
Side 1 (19:02) 
1. Promenade
2. The Gnome
3. Promenade
4. The Sage
5. The Old Castle
6. Blues Variations

Side 2 (18:47) 
7. Promenade 
8. The Hut Of Baba Yaga 
9. The Curse Of Baba Yaga 
10. The Hut Of Baba Yaga 
11. The Great Gates Of Kiev 
12. The End - Nutrocker 

Total Time: 37:49

Bonus track on Sanctuary remaster (2004) and Sanctuary Deluxe Edition (2008):
13. Pictures at an Exhibition (Studio re-recording of the "Pictures At An Exhibition" suite from 1993) (15:28)
a. Promenade
b. The Gnome
c. Promenade
d. The Sage
e. The Hut Of Baba Yaga
f. The Great Gates Of Kiev

Bonus disc on Sanctuary Deluxe Edition (2008) - Live At Lyceum, December 9th 1970
1. Promenade (2:02) 
2. The Gnome (5:40) 
3. Promenade (1:25) 
4. The Sage (5:06) 
5. The Old Castle (4:25) 
6. Blues Variation (6:04) 
7. Promenade (1:31) 
8. The Hut Of Baba Yaga (1:15) 
9. The Curse Of Baba Yaga (4:55) 
10. The Hut Of Baba Yaga (1:12) 
11. The Great Gates Of Kiev (6:54) 
12. The Barbarian (5:45) 
13. Knife Edge (8:02) 
14. Rondo (18:14) 
15. Nut Rocker (4:32) 

Total Time 77:02

Line-up / Musicians
- Keith Emerson / Hammond C3 & L100 organs, Modular Moog synthesizer, Harrison & Harrison pipe organ (1), clavinet (12)
- Greg Lake / vocals, bass, acoustic guitar (4)
- Carl Palmer / drums, chimes (11), percussion

Releases information
Tracks 1 - 12 - recorded live at Newcastle City Hall on 26 March 1971
LP Island HELP1 (1971)
LP Island Records 6396 011 (1971, UK)
LP Cotillion / Atlantic Records (1972) 
CD Atlantic (1984, 19122-2)
CD Rhino 72225 (1996, USA/Canada)
CD Essential, Castle Communications ESM CD 342, GAS 0000342ESM ACO (1996, UK, remastered)
CD Sanctuary Midline SMRCD057 (2004, Europe, remastered, with 1 bonus track)
CD Sanctuary Records 1776980 (2008, Europe, Deluxe Edition, remastered, with 1 bonus track on CD 1 and bonus CD 2)





Sabtu, 24 Maret 2018

Trilogy

Enough is enough !!! 
Enough is enough !!!
Enough is enough !!!....... 

Teriakan pada pelajar dan warga amerika yang sudah beberapa hari ini berdemonstrasi di kota-kota besar amerika ini jelas terdengar dari siaran televisi yang kutonton saat aku menunggu boarding pesawat di bandara.  Wiiih rupanya suasana mulai panas dibelahan bumi sana. Aneh juga mengapa ada orang yang tidak mau mendengarkan keluhan mereka, bahkan menyalahkan pihak lain untuk masalah yang seharusnya bisa mereka selesaikan sendiri...

Aahh..... aku secara spontan teringat pada sebuah lagu dari album Emerson, Lake and Palmer (ELP): Trilogy yang dirilis tahun 1972 berjudul Endless Enigma. Lagu ini terdiri dari dua bagian yang penuh dengan lirik pemberontakan yang ditulis oleh Greg Lake.

Trilogy berisi 7 lagu yang sangat pas menggambarkan ELP dipuncak keemasannya. Lagu-lagunya sangat kaya, tidak lagi didomimasi permainan keyboard Keith Emerson yang memang sangat mengagumkan. Greg Lake menyumbangkan lirik-lirik lagu yang sangat indah dan juga permainan gitar yang apik, seperti pada lagu ballad From The Beginning, yang juga merupakan single dari album ini. Carl Pamer juga punya variasi pukulan yang luar biasa. Segala bunyi perkusi dan irama digabung dalam suatu orkestrasi yang kompit. Top deh....

Ada beberapa komentar miring tentang album ini, terutama pada lagu The Sheriff yang berbau musik saloon koboy, hehehe. Ada juga lagu Hoedown yang diadopsi dari karya Aaron Copland yang saya yakin mengundang kita untuk ikut bergoyang. Saya selalu menganggap ini adalah album terbaik ELP. Dua album sebelumnya menurut saya agak terlalu gelap dan rumit untuk dinikmati secara ringan seperti di bandara saat ini. Entah kenapa album ini diberi nama Trilogy. Mungkin karena merupakan album ELP ke 3, atau mencerminkan kesatuan 3 anggota nya dalam album yang legendaris ini. Lagu kesayangan saya berjudul sama dengan judul album ini. Lirik yang ditulis Greg Lake sekali lagi saat menyentuh, tentang cinta yang hilang, dan selalu berhasil membuatku merenung, aahhh.....

 We tried to lie
But you and I
Know better than to let each other lie
The thought of lying to you makes me cry
Counting up the time that's passed us by......





TRILOGY
Emerson Lake & Palmer

Studio Album, released in 1972

Songs / Tracks Listing
1. The Endless Enigma (Part One) (6:42) 
2. Fugue (1:57) 
3. The Endless Enigma (Part Two) (2:05) 
4. From The Beginning (4:17) 
5. The Sheriff (3:23) 
6. Hoedown (Taken from Rodeo) {Aaron Copland, arranged by E, L & P} (3:47) 
7. Trilogy (8:54) 
8. Living Sin (3:14) 
9. Abaddon's Bolero (8:08) 

Total Time: 42:29

Bonus Track on 2004 Sanctuary remaster:
10. Hoedown (Live) (4:06)

Line-up / Musicians
- Greg Lake / vocals, bass, electric & acoustic guitars, addit. keyboards (9), lyricist & producer
- Keith Emerson / grand piano, Hammond C3, synths (Moog IIIC & Mini Moog model D), zukra (1)
- Carl Palmer / drums, percussion

Releases information
ArtWork: Hipgnosis with Phil Crennell (tinting)
LP Island Records ‎ 6396 018 (1972, UK)
LP Cotillion ‎- SD 9903 (1972, US)
CD Manticore ‎- CDM 3 (1985, Italy)
CD Victory Music ‎- 828 467-2 (1993, Europe) Remastered by Joseph M. Palmaccio
CD Rhino Records - 72226 (1996, US)
CD Sanctuary - SMRCD058 (2004, Europe) With 1 bonus track
CD Shout Factory - 826663-10491 (2007, US) Remastered by Andy Pearce




Misi Khusus Jon dan Vangelis

Beberapa minggu lalu sebenarnya saya telah menerima tugas khusus ini. Perintah langsung dari atasan saya, hehehe sebut saja dia editor. Rupanya dia sangat terpengaruh oleh tulisan saya sebelumnya tentang perubahan yang terjadi pada symphonic prog tahun 80an. Ia tidak terlalu percaya bahwa symphonic prog mati pada tahun 80an dan meminta saya untuk melakukan explorasi lebih mendalam.

Wah sepertinya simple tapi ini adalah tugas yang cukup berat. Apalagi buat seorang kurator pemula seperti saya ini, hehehehehe....... Tapi tugas tetap tugas, jadi harus tetap dilaksanakan. Hanya saja untungnya, tugas ini tidak punya batas waktu, editor selalu mnginginkan jawaban yang memuaskan tapi pasti, hingga saya diberi keleluasaan untuk melakukan riset dan perjalanan tanpa batas waktu, kecuali budget tentunya, hahahahahaha....

Baiklah, saya punya asumsi, bahwa symphonic prog memang tidak mati pada tahun 80an, sebagian memang berubah bentuk menjadi Neo-Prog, tapi ada group-group baru symphonic prog yang muncul diluar area utama mainstream symphonic prog terutama inggris. Mungkin daerah eropa utara, selatan, asia timur jauh atau amerika selatan atau dimana lagi ? Rasanya itu yang akan kupelajari kemudian. Hehehehe....

Sambil melaksanakan tugas khusus, saya mempelajari kiprah Jon Anderson di tahun 80an. Vokalis Yes ini meninggalkan Yes setelah album Tormato tahun 1978, kemudian merilis sambil merilis album solo ketiganya: Song Of Seven, Jon berkolaborasi juga dengan musisi Yunani: Vangelis. Kolaborasi antara Jon dan Vangelis sebetulnya sudah berlangsung sejak tahun 70an, saat Jon bernyanyi dalam beberapa album Vangelis seperti Heaven and Hell, Opera Sauvage dan See You Later.

Rupanya ada chemistry yang kuat antara keduanya sehingga Jon dan Vangelis menulis album bersama mereka hingga menghasilkan 4 album yang cukup sukses antara 1980-1991. Musiknya mungkin tidak terlalu progressive, tapi sangat enak didengarkan. Kombinasi vokal angelic Jon Anderson dengan musik new age Vangelis sangat pas. Apalagi lirik yang ditulis Jon kebanyakan tentang penggugah kesadaran kosmos dan pencapaian inner peace.

Album yang akan kita dengarkan ini adalah album ketiga Jon and Vangelis, berjudul Private Collection. Berisi 6 lagu yang semuanya jempolan. Ada berbagai tema disitu, surat untuk anak pertama Jon yang penuh dengan kata-kata yang indah; nasihat dan penghibur untuk warga polandia yang saat itu terdampak darurat militer, hingga lagu epik Horizon yang mengambil durasi satu side kaset sendiri, 22 menit, dan bercerita tentang visi masa depan yang damai dan transedental.
Musik Vangelis tetap terasa santai tapi juga kaya dengan berbagai efek yang terus terang tidak pernah terasa kuno atau membosankan. Mungkin seperti saya, mereka juga punya misi khusus. Dan misi khusus mereka adalah untuk membuat kita semua merasa bahagia.........

     

PRIVATE COLLECTION
Jon & Vangelis 

Studio Album, released in 1983

Songs / Tracks Listing
1. Italian Song (2:54)
2. And When the Night Comes (4:37)
3. Deborah (4:56)
4. Polonaise (5:26)
5. He Is Sailing (6:49)
6. Horizon (22:53)

Total Time: 47:35

Line-up / Musicians
- Jon Anderson / vocals, lyrics
AND
- Vangelis (Evangelos Papathanassiou) / composer, performer, arranger & producer

With:
- Dick Morrissey / saxophone (2)

Releases information
Artwork: Alwyn Clayden and Green Ink
LP Polydor ‎- POLH 4 (1983, UK) 
CD Polydor ‎- 813174-2 (1983, Germany) 
CD UMC ‎- 478 941-1 (2017, Europe) Remastered by Vangelis; New cover art





Jumat, 23 Maret 2018

Calling Occupants........

Apakah teman-teman mendengar bahwa tangal 15 Maret yang baru lalu diperingati sebagai hari kontak sedunia atau dalam bahasa inggrisnya adalah: World Contact Day? hehehe......

Ceritanya pada tahun 1953, organisasi yang menyebut dirinya International Flying Saucer Bureau (IFSB) menyerukan semua warga bumi mengirim pesan telepati secara serentak pada tanggal tersebut untuk mengundang makhluk extraterresterial berkomunikasi dengan kita. 

Teorinya adalah kalau pesan telepati kita dilakukan secara bersama-sama maka frekuensi dan amplitudo gelombang-nya akan sangat besar sehingga bisa mencapai otak mahluk yang lebih tinggi dari kita.....

Terlepas dari betul atau tidak betul teori itu, dan juga apakah kegiatan ini berhasil atau tidak, maka pada tahun 1976, sebuah group prog dari Kanada meluncurkan album pertama yang berisi single yang terinsiprasi dari World Contact Day, berjudul Calling Occupants of Interplanetary Craft..... Saya terus terang pertama kali mendengar lagu bagus ini saat dibawakan oleh The Carpenters dalam album Passage tahun 1977. Suara Karen Carpenter yang sangat lembut rasanya sangat pas. Tidak heran lagu ini pernah mencapai peringkat 32 dalam Billboard Top 100 Amerika, sedangakan saat aslinya dibawakan Klaatu hanya mencapai peringkat 62 di tangga lagu yang sama. Waaah sayangnya Klaatu tidak begitu dikenal ya. Padahal versi Klaatu juga sama bagusnya dengan versi The Carpenters, kok. 

Trio yang terdiri dari John Woloschuk, Dee Long dan Terry Draper ini nampaknya semuanya bisa menyanyi dan mempunyai suara yang merdu dan enak didengar. Musiknya terasa agung dan menggugah kesadaran kosmos kita, bahwa kita bukan makhluk cerdas satu-satunya di alam semesta yang maha luas ini. Hahaha sebetulnya ada satu lagi cerita bersejarah tentang Klaatu, tapi biarlah kita simpan untuk lain kali. Saat ini kita coba saja bermain telepati dulu ....

Calling occupants of interplanetary craft
Calling occupants of interplanetary
Most extraordinary craft .....

   

3:47 E.S.T.

Klaatu

Studio Album, released in 1976

Songs / Tracks Listing
Side 1 
1. Calling occupant..... (7:14) 
2. California jam (3:01) 
3. Anus of Uranus (3:16) 
4. Sub Rosa subway (4:36) 
Side 2 
5. True life hero (3:25) 
6. Doctor Marvello (3:37) 
7. Sir bodsworth rugglesby 3 (3:22) 
8. Little neutrino (8:25) 

Total Time: 36:56

Line-up / Musicians
- John Woloschuk /bass, guitar, keyboards, lead vocals 
- Dee Long / guitar, bass, lead vocals 
- Terry Draper / drums, percussion, trombone, vocals




Selasa, 20 Maret 2018

Nonton Yuuuukk....

Saya pernah berjanji untuk membicarakan Goblin......hiiiiii. Namanya saja sudah seram ya. Hehehe, saya sendiri suka menonton film sebenarnya, terutama film horror. Entah kenapa selalu ada daya tarik dari film horror yang memang harus kuakui tetap saja menakutkan. Kalau kata penulis top novel-novel horror Stephen King: Terror itu psikologis, tapi horror itu biologis..... hehehehe. Jadi pada dasarnya horror adalah kebutuhan hidup. Kita memerlukan horror dalam kehidupan sehari-hari agar adrenalin tetap terjaga, waspada tidak hilang dan sebagainya. Hmmmm.... mungkin itu kenapa film horror terus menerus dibuat dan tetap saja laku ....

Terus terang kalau ingat film horror, saya teringat satu group prog asal Italy yang memang spesialisasinya membuat soundtrack film horror: Goblin! yang dimotori oleh keyboardist Claudio Simonetti. Goblin terkenal pada tahun 70an karena bekerja sama dengan sutradara film horror Italy bergenre Gallio, Dario Argento. Khas pada film Gallio adalah pembunuhan yang sadis dengan darah yang membanjir kemana-mana.... hihihi bukan film anak-anak pokoknya.

Album yang akan kita dengarkan adalah soundtrack film Profondo Rosso yang merupakan album pertama Goblin. Profondo Rosso sendiri berarti Deep Red, bercerita tentang seorang pianis dan reporter yang menyelidiki pembunuhan serial di kota Turin. Penuh dengan adegan yang ngeri tapi juga meminta kita tetap menonton untuk mengetahui akhir cerita misterius ini. Karena ini film tahun 70an maka efek visual film tentunya terlihat sangat kuno, tapi ceritanya menarik, penuh dengan kejutan-kejutan. Konon sebenarnya Dario Argento berusaha menghubungi Pink Floyd untuk mengisi soundtrack film ini, tapi karena tidak berhasil ia bekerja sama dengan Goblin. Kerjasama ini rupanya berhasil baik sehingga Goblin membuat belasan soundtrack film yang memang hampir semuanya bertema Gallio.

Musiknya sendiri sangat bagus. Ada melodi yang menggantung seperti dimainkan terus menerus oleh Claudio. Bass yang dimainkan Fabio Pignatelli juga melodious dan penuh makna. Kompak sekali dengan drum-nya Walter Martino. Ada beberapa bagian drum solo yang menarik dan menegangkan. Massimo Morante juga memainkan gitar dengan banyak elemen kejutan. Mendengarkan album soundtrack tanpa melihat filmnya mungkin agak sulit memang. Seperti mendengarkan musik yang terpotong-potong dan kita baru mengerti setelah melihat filmnya. Hehehe jadi siap-siap saja tenggelam dalam suasana malam yang dingin, sepi dan muram. Jangan lupa sekali-kali melihat ke belakang, karena mungkin saja pembunuh itu sedang mengendap-ngendap dibelakang anda....... 



PROFONDO ROSSO [AKA: DEEP RED] (OST)
Goblin

Studio Album, released in 1975

Songs / Tracks Listing
1. Profondo Rosso (3:45) 
2. Death Dies (4:37) 
3. Mad Puppet (6:30) 
4. Wild Session (5:40) 
5. Deep Shadows (5:45) 
6. School At Night (2:05) 
7. Gianna (1:47) 

Total time 30:09

Line-up / Musicians
- Massimo Morante / guitar
- Claudio Simonetti / keyboards
- Fabio Pignatelli / bass
- Walter Martino / drums

With:
- Giorgio Gaslini / orchestral score & conductor (4-7)
- Agostino Marangolo / drums (2)

Releases information
LP Cinevox ‎- MDG 85 (1975, Italy)
LP Laser ‎- VXL1-4037 (1975, Australia) Retitled "Deep Red", new cover art
(1991, Italy) New cover art








Tegar Untuk Menghadapi Perubahan

Saya mengenal Galahad sejak "berkelana" di eropa akhir tahun 2000an. Band Neo Prog asal Inggris ini sangat keren, garang dan pas sekali didengarkan sambil menikmati minuman panas; entah secangkir kopi cappucinno panas atau hanya teh panas sambil berjuang melawan dingin di kamar sewaan yang kecil. Heheheh.... maklum sebagai mahasiswa tugas belajar, saat itu saya harus berhemat dengan biaya hidup, jadi pemanas ruangan hanya dihidupkan bila winter sudah sangat dingin. hihihihi.......

Saat-saat dingin dan sunyi seperti itu, sambil menghitung hari, Galahad sangat enak didengarkan karena musiknya garang dan hangat, vokal Stu Nicholson gagah dan pengucapannya sangat jelas didengar. Albumnya Empire Never Last merupakan salah satu album kesayanganku untuk melewati winter yang depressive, hehehehe.....

Jadi albumnya yang dirilis tahun 2018 ini sangat menarik perhatian saya. Dan hebatnya lagi hanya berisi 1 lagu dengan durasi fantastik: 42 menit! Woow... Judulnya Seas of Change. Terdiri dari 12 bagian yang musti didengarkan sekaligus, karena merupakan satu kesatuan utuh. Pada versi CD-nya ada 2 lagu bonus yang sebenarnya adalah versi extension dari versi yang ada lagu utama.

Luar biasa, vokal Stu tetap prima. Gitarisnya adalah Lee Abraham yang biasanya memainkan bass tapi ternyata baik juga bermain gitar. Bisa sangar tapi juga kadang bermain akustik. Dean Baker memainkan keyboard dan orchestration dengan lembut dan menyentuh. Pemain bass sekarang dipercayakan pada Tim Ashton, yang bermain sama baiknya dengan drummer Spencer Luckman untuk mengubah mood dan ritme tiap bagian perubahan ini. Ada juga suara flute dan alat tiup lain yang dimainakan dengan sangat bagus oleh Sarah Bolter.

Tema album memang perubahan. Kegamangan politik, ekonomi dan masa depan Inggris setelah Brexit. Galahad merasa lautan kini telah terbuka dan Inggris harus siap berlayar kearah perubahan.....
Aah.... hidup juga memang sebenarnya tentang perubahan, bukan begitu teman-teman....    :)



SEAS OF CHANGE
Galahad

Studio Album, released in 2018

Songs / Tracks Listing
1. Seas of Change (42:43) :
- I. Storms are a Comin'
- II. Lords, Ladies and Gentlemen
- III. The Great Unknown
- IV. Sea of Uncertainty
- V. Up in Smoke
- VI. A Sense of Revolution
- VII. Dust
- VIII. 'Tis but a Dream
- IX. As Time Fades
- X. Mare's Nest
- XI. The Greater Unknown
- XII. Storms are a Comin' (Reprise)

Total Time 42:43

Bonus tracks on CD release:
2. Dust (extended edit) (5:57)
3. Smoke (extended edit) (7:14)

Line-up / Musicians
- Stu Nicholson / vocals
- Lee Abraham / guitars
- Dean Baker / keyboards, orchestration
- Tim Ashton / bass
- Spencer Luckman / drums, percussion

With:
- Sarah Bolter / flute, clarinet, soprano sax

Releases information
LP OSKAR ‎- 005LP (2018, Poland)
CD OSKAR ‎- 1073CD (2018, Poland) With 2 bonus tracks





Jumat, 16 Maret 2018

Hari Baru Yang Liar...

Sebelum pulang dan mengunci kantorku yang kecil saja dilantai 4 sebuah gedung perkantoran dipinggir kota, aku melirik kedalam kotak inbox untuk memilih beberapa album yang akan dengarkan pada akhir pekan. Ya... ya.... aku tahu minggu ini minggu yang sungguh berat hingga aku tak banyak menulis. Jadi aku sungguh-sungguh berpikir untuk membawa pekerjaan menulis ini ke rumah. Ada Album baru Rick Miller berjudul Delusional dengan cover yang sungguh memikat. Seorang tua menuntun otaknya sendiri? hehe. Atau album Isildurs Bane tahun 2017 yang berjudul Off The Radar, sepertinya juga menarik. Tapi ada juga album baru berjudul Another Day dari kolaborasi David Cross dan David Jackson yang lebih menarik perhatianku. Hehehe....

Baiklah....kubawa saja tiga-tiganya daripada membuang waktu untuk memilih. Siapa tahu aku bisa mendengar tiga-tiganya dalam weekend ini. Jadi kudengar Another Day dalam mobil sambil menyetir pulang. Dan ternyata sangat bagus album ini. Tidak mengecewakan. Liar. Bisa dibayangkan musik yang dihasilkan oleh seorang violinist yang pernah bergabung dengan King Crimson era 70an dan menghasilkan beberapa album dahsyat seperti Lark's Tongues in Aspics, Red, Starless (hmmm...); dengan seorang saxophonist jempolan anggota Van Der Graff Generator dan bermain untuk berbagai progger top seperti Peter Gabriel, Peter Hammill, Osanna dan Keith Tippett.

Ada 12 lagu pada album kolaborasi ini. Seluruhnya instrumental dengan suatu perpaduan yang langka, biola dan saxophone, improvisasi biola ala King Crimson dengan jeritan saxophone yang khas. David Jackson kelihatannya menggunakan seluruh kemampuannya, termasuk tekhnik double sax-nya yang terkenal. Musiknya tentu sangat ekletik. Mereka pernah juga bergabung bersama-sama dalam Prog Family dan The Rome Pro(G)ject. Jadi jelas sangat kompak. Pada beberapa lagu bahkan tidak jelas lagi suara violin atau sax karena menyatu dengan sangat apik. Rhythm section bermain sangat gemilang, Craig Blundell pada drum dan Mick Paul pada bass berhasil mengantar dua David pada hari baru yang jelas tidak biasa ini.



ANOTHER DAY (WITH DAVID JACKSON)
David Cross

Studio Album, released in 2018

Songs / Tracks Listing

1. PREDATOR
2. BUSHIDO
3. LAST RIDE
4. GOING NOWHERE
5. TRANE TO KIEV
6. MILLENNIUM TOLL
7. ARRIVAL
8. COME AGAIN
9. BREAKING BAD
10. MR. MOROSE
11. ANTHEM FOR ANOTHER DAY
12. TIME GENTLEMEN, PLEASE

Line-up / Musicians

- David Cross
- David Jackson

with

Mick Paul / bass
Craig Blundell / drums

Releases information
THE RIGHT HONOURABLE RECORDING COMPANY LTD
Released March 16, 2018.




Kamis, 15 Maret 2018

Symphonic Prog Ala Amerika

Karena anggotanya ada yang memainkan violin dan menggunakan overall, Kansas sering disalhartikan sebagai band musik country dari amerika, hehehehe.... Padahal Kansas adalah band symphonic prog pertama amerika, yang disebut-sebut sebagai jawaban amerika terhadap kemunculan band symphonic prog Genesis atau Yes tahun 70an di benua Eropa. Tentu saja gaya symphonic prog amerika agak berbeda dengan eropa. Kalau eropa lebih banyak unsur klasik bahkan terkadang medieval, gaya amerika Kansas memasukkan juga unsur soul dan rock yang lebih kental di amerika.

Kansas didirikan tahun 70an oleh Kerry Livgren yang memainkan gitar dan drummer Phil Ehart. Formasi terbaik mereka adalah bersama vokalis Steve Walsh, violis Robby Steinhardt yang berdua membentuk ciri khas musik Kansas yang klasik rock. Masih aktif hingga kini walau dengan berbagai pergantian pemain, Kansas sudah menghasilkan 15 studio album dan banyak sekali album live dan bootlegnya. Hits Kansas yang sangat terkenal adalah Dust In The Wind dari album Point Of No Return yang merupakan salah satu lagu single terbanyak yang didownload sepanjang masa. Konon terjual lebih dari 1 juta kali.

Woooow... ... Tapi kita tak akan mendengar Point Of No Return saat ini, kita akan mendengarkan album Leftoverture yang dirilis tahun 1976 dan juga dianggap salah satu album terbaik Kansas. Album ini mempunyai 8 lagu dengan beberapa lagu yang cukup panjang. Lagu favorit saya tentu saja Carry On Wayward Son yang juga merupakan single terlaris selain Dust In The Wind. Ada satu lagu suites disini berjudul Magnum Opus yang terdiri dari 6 bagian. Penuh perenungan dan makna yang dalam dari Kevin Livgren yang menulis hampir semua lagu disini. Musik yang ditawarkan juga sangat  matang, dengan trias keyboard, gitar dan violin yang padat saling mengisi. Hhmmmm.... prog amerika juga tidak mau kalah rupanya......



LEFTOVERTURE
Kansas
Studio Album, released in 1976

Songs / Tracks Listing
1. Carry on Wayward Son (5:13) 
2. The Wall (4:47) 
3. What's on My Mind (3:27) 
4. Miracles out of Nowhere (6:29) 
5. Opus Insert (4:26) 
6. Questions of My Childhood (3:38) 
7. Cheyenne Anthem (6:50) 
8. Magnum Opus (8:27) :
- a. Father Padilla Meets The Perfect Gnat 
- b. Howling At The Moon 
- c. Man Overboard 
- d. Industry On Parade 
- e. Release The Beavers 
- f. Gnat Attack

Total Time: 43:17

Bonus tracks on 2001 Legacy/Epic remaster: 
9. Carry on Wayward Son (Live *) (4:53)
10. Cheyenne Anthem (Live $) (6:42)

* Recorded at Pine Knob, Wisconsin, previously unreleased
$ Recorded at The Palladium in New York City, December 1977, previously unreleased

Line-up / Musicians
- Steve Walsh / lead & backing vocals, organ, piano, vibes, synths
- Rich Williams / acoustic & electric guitars
- Kerry Livgren / electric guitar, piano, clavinet, Moog, Oberheim & ARP synths
- Robby Steinhardt / violin, viola, lead (4,7) & backing vocals
- Dave Hope / bass
- Phil Ehart / drums, percussion 

With:
- Toye La Rocca, Cheryl Norman / children voices (7)

Releases information
Artwork: Dave McMacken with Tom Drennon (art direction)
LP CBS/Kirshner - JZ 34224 (1976, US)
LP Kirshner - KIR 81728 (1976, UK)
LP Epic - EPC 81728 (1976, UK)
CD Epic - 465557-2 (1989, Europe)
CD Legacy - EK 85386 (2001, US) Remastered by Darcy Proper w/ 2 bonus Live tracks
CD Epic - 502479 2 (2001, Europe) Remastered by Darcy Proper w/ 2 bonus Live tracks





Cerita Pohon Beracun

Album baru dari group Italy L'Albero Del Veleno yang artinya pohon beracun ini sangat menarik untuk didengarkan. Baru dibentuk pada tahun 2010 di Florence, group ini langsung mencuri perhatian. Gaya musik horror RPI tahun 70an yang dipelopori Claudio Simonetti dengan group Goblin-nya sangat mahir ditiru dan direplikasi oleh pohon beracun ini. Hanya saja bedanya dengan Goblin, Poison Tree hanya memainkan musik instrumental yang terasa sangat sinematik, gelap, dan tentu saja lengkap. Terus terang bila mendengarkan musik Goblin yang jelas-jelas merupakan soundtrack film kadang membingungkan karena memang dirancang untuk mengiringi adegan tertentu. Hmmm .... mungkin harus saya bahas Goblin suatu saat ya...

Pohon beracun ini  cukup serius dengan tema horror ini, karena mereka juga membuat video yang ditampilkan saat pertunjukan, sehingga musik mereka memang terasa sebagai musik soundtrack sebuah film.

Album yang keluar tahun 2018 ini adalah album kedua mereka yang berjudul Tale Of Dark Fate ini hanya berisi 2 .... eh 3 lagu. Lagu pertama merupakan lagu pendek tentang Poison Tree sedangkan 2 lagu berikutnya merupakan suites yang merupakan tema utama album ini: Cerita Hypnos dan Thanatos, dua bersaudara alam kegelapan dalam mitologi Yunani. Musiknya sendiri seperti sudah diduga, gelap dan misterius. Apalagi musiknya diisi juga dengan permainan violin Jacopo Ciani dan flute Marco Brenzini yang menambah kesan suram dan ngeri. Piano dan keyboard ala Goblin sangat sempurna dimainkan oleh arsitek pohon beracun Nadin Petricelli serta drummer apik yang tenang Claudio Miniati.  Musisi lain juga sangat berperan seperti bass Michele Andreucetti yang cenderung solois dan membawa pikiran kita melalui adegan-adegan yang mencekam. Gitar Lorenzo Picchi juga terkadang mengisi dari arah yang tak terduga.

Apakah anda percaya bahwa nasib kita sudah ditentukan sebelumnya? Rasanya akan jadi diskusi panjang kalau kita membahasnya. Tergantung pula sudut pandang kita, hehehe.... Yang jelas masa depan L' Albero Del Veleno sepertinya sangat menggoda dan meracuni pikiran kita





TALE OF A DARK FATE
L' Albero Del Veleno

Studio Album, released in 2017

Songs / Tracks Listing
1. Prelude - The Poison Tree (1:20)
ACT I (Hypnos)
2. Morpheus (6:14)
3. Phobetor (3:18)
4. Interlude I - Momus (1:22)
5. Phantasos (5:50)
6. Interval (0:14)
ACT II (Thanatos)
7. Clotho (7:09)
8. Lachesis (4:08)
9. Interlude II - Ananke (3:48)
10. Atropos (5:37)
11. Postlude - Moros (4:55)

Total Length 44:04

Line-up / Musicians
- Lorenzo Picchi / guitars
- Nadin Petricelli / keyboards, synth
- Marco Brenzini / flute
- Jacopo Ciani / violin, viola, strings
- Michele Andreuccetti / bass
- Claudio Miniati / drums

With:
- Cesare Valentini / choir arrangements

Releases information
CD Black Widow Records ‎- BWRDIST 674 (2017, Italy)
FLAC download - bandcamp.com







Senin, 12 Maret 2018

Petualangan Mistik

Terus terang pertama kali saya tertarik pada album ini karena sampul depannya. Indah sekali ala Roger Dean nya Yes. Dan ternyata setelah mendengarnya saya tidak kecewa, karena album Jean-Luc Ponty yang dirilis tahun 1981 ini sangat bagus.

Album ini adalah album solo ke 13, saat Jean-Luc Ponty berada dipuncak kreativitasnya. Dilahirkan di Avranches Perancis, Ponty berlatih bermain violin sejak usia muda dibawah bimbingan ayahnya sendiri yang merupakan direktur sekolah musik. Pada usia 17 tahun ia telah lulus dari Paris Conservatoire dengan penghargaan tertinggi: Premier Prix. Ponty sempat bermain bersama Frank Zappa pada album Hot Rats dan juga bersama Mahavishnu Orchestra dalam album Apocalypse dan Visions Of Emerald Beyond.

Dengan referensi seperti itu, tentu saja permainan violin Ponty luar biasa. Ponty juga dikenal sebagai pelopor electric violin dan termasuk musisi pertama yang menggunakan sequencer dalam violin. Wah dahsyat sekali....

Album ini dirilis tahun 1981, saat banyak musisi prog terpaksa menyesuaikan musiknya kalau tidak mau gulung tikar. Tapi rupanya hal itu tidak berlaku bagi Jean-Luc Ponty. Musiknya tetap cantik sekaligus gagah, dengan fusion yang sangat kaya bermacam gaya, tapi juga tetap bermuatan musik elektrik alam 80an yang modern.

Ada 10 lagu dialbum ini dengan Mystical Adventures Suite yang terbagi dalam 5 bagian. Semua lagu-lagunya instrumental, sangat enak  didengar, terutama Suites dan Rhythm Of Hope yang merupakan lagu kesayangan saya di album ini, karena ada solo bass yang sangat enak, mungkin dimainkan oleh Randy Jackson. Tabuhan drum Rayford Griffin juga sangat padat membentuk ritme perjalanan, dengan dukungan perkusionis handal Paulinho Da Costa. Dari sisi melodi Jean-Luc Ponty juga dibantu Chris Rhyne pada keyboard dan Jamie Glaser yang memainkan gitar.



MYSTICAL ADVENTURES
Jean-Luc Ponty

Studio Album, released in 1981

Songs / Tracks Listing
1. Mystical Adventures, Pt. 1 (3:28)
2. Mystical Adventures, Pt. 2 (3:37)
3. Mystical Adventures, Pt. 3 (7:30)
4. Mystical Adventures, Pt. 4 (0:47)
5. Mystical Adventures, Pt. 5 (5:06)
6. Rhythms of Hope (4:03)
7. As (5:49) 
8. Final Truth, Pt. 1 (4:55)
9. Final Truth, Pt. 2 (2:07) 
10. Jig (3:57)

Total Time: 41:19

Line-up / Musicians
- Jean-Luc Ponty / violin, violectra, 5-string electric violin, Yamaha organ (2-6,9,10), Yamaha electric piano (1,4), synthesizers (1,3,9), bass synth (5), vocoder (3,7), Fx, orchestrations & producer

With:
- Jamie Glaser / guitar, acoustic guitar (10)
- Chris Rhyne / piano, Fender Rhodes electric piano (2,6,7,10), Prophet-5 & Oberheim Eight Voice synthesizers (2,3,5-10), bass synth (6,9)
- Randy "The Emperor" Jackson / bass
- Rayford Griffin / drums, percussion (9), vocals (3,7)
- Paulinho Da Costa / percussion (6,7,10)

Releases information
ArtWork: Daved Levitan with Claudia Ponty (concept)
LP Atlantic - SD 19333 (1982, US)
CD Atlantic - 19333-2 (1982, US)




Jumat, 09 Maret 2018

Musik Untuk Perubahan

Dalam perjalanan kali ini kebetulan aku naik pesawat dari maskapai nasional yang berkelas, hehehe... Jadi lumayan lah, berbeda dengan maskpai budget yang biasa kunaiki, kali ini aku dapat hot meal yang cukup mengenyangkan perut seorang pengembara dan juga sarana hiburan dalam pesawat untuk menonton film terbaru atau sekedar mendengarkan musik.

Rasanya malas menonton film, jadi aku memilih musik saja. Dan sengaja kali ini aku tak memutar library ku sendiri, karena aku pensaran dengan koleksi harddrive maskapai ini, apakah mereka punya musik prog? hehehehe

Mulailah aku mencari satu persatu album yang ada dikoleksi pesawat ini. Hhhhm ,...... tentunya genre nya sangat beragam, jadi hanya sedikit sekali album prog yang kulihat. Ada beberapa album David Bowie, tapi aku tak tertarik. Sempat tertarik pada album Chicago- X (didalamnya ada lagu bagus: If You Leave Me Now yang romantik) dan akhirnya pilihanku jatuh pada album Tutu dari Miles Davis.

Miles Davis adalah musisi hebat yang dalam sejarah digambarkan mirip Pablo Picasso, terus menerus berubah untuk membuat karya seni yang lebih baik. Mula-mula memainkan bebop jazz tahun 40-50an, hingga menemukan jazz rock dan fusion pada akhir tahun 60an. Periode awal 70an merupakan bagian terpenting dalam karirnya ketika merekam beberapa album yang dianggap sebagai milestone didunia nusik seperti In A Silent Way (1969), Bitches Brew (1970), dan A tribute to Jack Johnson (1970). Ia juga menghasilkan album live yang kontrovesial pada periode itu karena banyak menentang aturan jazz seperti Live-Evil (1970), Agharta (1975), dan  Pangaea (1975). Formasi musisinya pun pada saat itu sangat mengesankan. Pada album Bitches Brew ada Wayne Shorter, John McLaughlin, Chick Corea, Joe Zawinul, Lenny White, Billy Cobham, Airto Moreira dan lain-lain, Bayangkan ada 3 terumpet, 1 gitar, 3 keyboard, 1 bass dan 3 drums plus 1 perkusi bermain bersama-bersama. Dan bukan hanya itu, semua pemainnya kelak punya jalan sendiri-sendiri didunia prog dan jazz. Woooow... Luar biasa. Rupanya Miles Davis pantas dijuluki Bapak Fusion..... hehehehe

Album Tutu ini dirilis tahun 1986, ketika kesehatan Miles Davis mulai terganggu, dan mau tidak mau mempengaruhi kualitas musiknya. Tokoh utama di album ini bahkan bukan Miles Davis lagi, melainkan Marcus Miller, seorang bassist handal yang juga menulis dan meng-arranger hampir semua lagu di album ini.  Seorang teman bahkan menyebut album ini adalah album Marcus Miller yang menghadirkan Miles Davis..... hahahahaha. Ada drum programming disini, suasananya sangat eletrik dan modern, Bahkan keyboard dibantu George Duke yang lebih ngepop. Tapi bukan album yang jelek kok. Permainan Miles Davis tetap dominan dengan gaya squeaky dan mute nya yang mantap habis. Hanya saja musiknya memang dibuat lebih mengikuti jaman....



TUTU
Miles Davis

Studio Album, released in 1986

Songs / Tracks Listing
1. Tutu (5:15) 
2. Tomaas (5:32) 
3. Portia (6:18)
4. Splatch (4:45) 
5. Backyard Ritual (4:49) 
6. Perfect Way (4:32) 
7. Don't Lose Your Mind (5:49) 
8. Full Nelson (5:05)

Line-up / Musicians
- Miles Davis / trumpet

With:
- Marcus Miller / programming, drum machine, bass clarinet, soprano sax, bass guitar (5), arranger
- George Duke / all other instruments & arranger & co-producer (5) 
- Bernard Wright / synths (2,7) 
- Adam Holzman / synth solo (4) & programming
- Jason Miles / synth programming
- Michal Urbaniak / electric violin (7)
- Omar Hakim / drums & percussion (2)
- Steve Reid / percussion (4)
- Paulinho Da Costa / percussion (1,3-5)

Releases information
Artwork: Irving Penn (photo) with Eiko Ishioka (art direction)
LP Warner Bros. ‎- 9 25490-1 (1986, US)
CD Warner Bros. ‎- 9 25490-2 (1986, US)
CD Warner Jazz ‎- 7599-25490-9 (2001, Europe)




Senin, 05 Maret 2018

Lagu Yang Terlupakan

Terkadang kita memang melupakan sejarah kita sendiri. Tapi kita diingatkan oleh Yes dalam album terbaik mereka yang dirilis tahun 1973 ini. Konon saat Bill Bruford menikah, Jon Anderson bertemu dengan perkusionist King Crimson Jamie Muir dan diperkenalkan dengan sebuah buku autobiografi Parahamansa Yoganda, seorang "yogi" dan guru spiritual India. Jon Anderson sangat terkesan pada buku itu terutama pada bagian footnote halaman 283 yang menjelaskan shastras, text hindu yang menjelaskan semua hal didunia ini.

Jon Anderson menuliskan ide ini bersama Steve Howe disela-sela tour Close To The Edge. Beberapa sesi penulisan lagu sangat ekstensif dan berlangsung semalaman hingga fajar, hingga akhirnya konsep album Tales Of Topographic Ocean ini berwujud. Anggota Yes lainnya terutama Rick Wakeman dikabarkan tidak setuju dengan konsep album ini, yang menyebabkan ia meninggalkan Yes setelah album ini selesai direkam.

Proses rekamannya pun sangat unik. Agar mendapat inspirasi dari alam sekitar, Jon Anderson pada awalnya ingin merekam album ini langsung di alam terbuka, dalam tenda. Ketika idenya tidak dapat diwujudkan rekaman tetap dilakukan distudio, tapi Jon Anderson membawa pot-pot tanaman dan bunga-bungaan serta potongan karton yang dibentuk seperti binatang kedalam studio, dan hasilnya tentu saja luar biasa, hahahaha....

Album ini hanya terdiri dari 4 lagu dengan durasi yang panjang-panjang khas symphonic prog tahun 70an. Memang dominasi Jon Anderson dan Steve Howe sangat jelas terasa. Lagu-lagunya lebih lambat, tidak meledak-ledak seperti Close To The Edge. Lirik yang ditulis Jon Anderson seperti puisi, berirama, ditemani petikan gitar Steve Howe yang sangat kaya, penuh gaya dan variasi yang luar biasa. Tak ada pengaruh india dalam musiknya, tapi temanya sangat mendasar dan memberi pencerahan tentang ilmu pengetahuan dan makna kehidupan. Yes bercerita tentang kebudayaan-kebudayaan dunia yang hilang ditelan waktu dan kebodohan manusia, lagu-lagu dan mantera dari suku bangsa leluhur yang terlupakan, terlindas sikap materialisme dan ketidakperdulian kita....    Aaaaah...........



TALES FROM TOPOGRAPHIC OCEANS
Yes

Studio Album, released in 1973

Songs / Tracks Listing
1. The Revealing Science Of God - Dance Of The Dawn (20:27) 
2. The Remembering - High The Memory (20:38) 
3. The Ancient - Giants Under The Sun (18:34) 
4. Ritual - Nous Sommes Du Soleil (21:35) 

Total Time: 81:14

Bonus tracks on 2003 Elektra remaster:
5. Dance of the Dawn (Studio run-through) (23:35) *
6. Giants under the Sun (Studio run-through) (17:17) *

* Previously unreleased

Line-up / Musicians
- Jon Anderson / lead vocals, harp, cymbals, percussion
- Steve Howe / electric 6- & 12-strings, steel and acoustic guitars, electric sitar, backing vocals
- Rick Wakeman / grand piano, RMI Electra-Piano, MiniMoog, Mellotrons, Hammond C3, pipe organ
- Chris Squire / acoustic & electric basses, timpani, backing vocals
- Alan White / drums, piano (4), vibes, MiniMoog, Moog drum, tubular bells, assorted percussions

With:
- Eddy Offord / co-producer, engineer

Releases information
ArtWork: Roger Dean
2xLP Atlantic ‎- K 80001 (1973, UK)
2xCD Atlantic ‎- 2 908-2 (1987, US)
2xCD Atlantic ‎- 82683-2 (1994, Europe) - First remaster from original master tape by Joe Gastwirt
2xCD Elektra ‎- R2 73791 (2003, US) - Remastered by Bill Inglot & Dan Hersch w/ 2 bonus tracks 




Sinkronisasi: Dave Sinclair

Dave Sinclair adalah seorang bintang prog serba bisa. Ia adalah composer, penyanyi dan keyboardist yang mendirikan pelopor aliran Canterb...